Suatu ketika ada seorang anak laki-laki yang bersifat pemarah. Untuk mengurangi kebiasaan marah sang anak, ayahnya memberikan sekantong paku dan mengatakan pada anak itu untuk memakukan sebuah paku di pagar belakang setiap kali dia marah…
Hari pertama anak itu telah memakukkan 48 paku ke pagar setiap kali dia marah… Lalu secara bertahap jumlah itupun akhirnya berkurang setiap harinya. Dia mendapati bahwa ternyata lebih mudah menahan amarahnya daripada memakukan paku itu ke pagar.
Akhirnya, tibalah hari dimana anak tersebut merasa benar-benar bisa mengendalikan amarahnya. Dia memberitahukan hal itu kepada ayahnya, yang kemudian mengusulkan agar dia mencabut satu paku untuk setiap hari dimana dia tidak merasa marah.
Hari-hari berlalu dan anak laki-laki itu akhirnya memberitahu ayahnya kembali bahwa semua paku itu telah tercabut dari pagar olehnya. Lalu sang ayah menuntun anaknya ke dekat pagar dimana dia mencabut semua paku yang tertanam olehnya.
“Kamu telah berhasil dengan baik anakku.. tapi, lihatlah lubang-lubang di pagar ini.. Pagar tidak akan pernah bisa sama seperti sebelumnya. Sama halnya seperti ketika kamu mengatakan sesuatu dalam kemarahan. Kata-katamu meninggalkan bekas seperti lubang bekas paku ini… di hati orang lain.
Kamu dapat menusukkan pisau pada seseorang, lalu mencabut pisau itu kembali.. Tetapi tidak peduli berapa kali kamu meminta maaf, luka itu akan tetap ada.. dan luka karena kata-kata adalah sama buruknya dengan luka fisik..”
……………..

Seorang wanita tua,bertubuh gemuk, dengan senyum jenaka di sela pipi-pipinya yang bulat, duduk menggelar nasi bungkus dagangannya. Tidak lama setelahnya, beberapa pekerja bangunan dan kuli angkut yang sudah menunggu sejak tadi mengerubungi dan membuatnya sibuk meladeni pesanan nasi bungkus mereka. Bagi mereka menu dan rasa bukan soal, yang terpenting adalah harganya yang luar biasa murah.
Hampir mustahil ada orang yang bisa berdagang dengan harga sedemikian rendah. Lalu apa untungnya? Wanita itu tersenyum menjawab, “Bisa numpang makan dan beli sedikit sabun untuk mandi.” Tapi bukankah ia bisa menaikkan harganya sedikit? Sekali lagi iya tersenyum, “Lalu bagaimana kuli-kuli itu bisa membeli makan? Siapa yang mau menyediakan sarapan untuk mereka?” katanya sambil menunjuk para lelaki yang kini berlompatan ke atas truk pengantar mereka ke tempat kerja.
Ah! Betapa cantiknya. Bila sebongkah misi hidup dipadukan dalam sebuah pekerjaan. Orang-orang yang memahami benar kehadiran karyanya, sebagaimana wanita tua di atas, yang bekerja demi setitik kesejahteraan hidup manusia, adalah tiang penyangga yang menahan langit agar tidak runtuh. Merekalah beludru halus yang membuat jalan hidup yang tampak keras berbatu ini menjadi lembut. Bukankah demikian tugas kita dalam bekerja? Menghadirkan secercah kesejahteraan bagi sesama.. :)